Sudahkan AS Resesi Atau …

24 01 2008

Pasar pekan ini terkaget-kaget dengan laporan besarnya kemungkinan terjadi resesi di Amerika Serikat (AS). Alhasil, para investor bersikap irasional dengan melepas saham di seluruh sektor dengan satu tujuan, menyelamatkan dananya. Sudah dapat ditebak, indeks saham bursa global akhirnya hancur lebur termasuk Bursa Efek Indonesia.

Sebenarnya, kalau kita mau mencermati sejumlah data yang sudah dirilis sejak pertengahan tahun 2007, ekonomi AS memang memasuki masa-masa suram. Masih terbayang dibenak kita kasus kredit bermasalah di sektor perumahan yang dikenal dengan subprime mortgage yang membuat perusahaan-perusahaan kakap seperti Citigroup dan sejumlah perusahaan kakap lainnya harus menanggung kerugian yang sangat besar.

Sebagian analis dan ekonom memperkirakan AS memasuki masa resesi namun sebagian lagi menolak dan menyanggah kemungkinan terjadinya hal tersebut. Ekonom paling kawakan dan senior seperti Alan Greenspan sudah memberikan warning bahwa ekonomi AS sekitar 50 persen sudah masuk tahap resesi. Data-data yang disampaikan mantan bos The Fed itu kembali di compare dengan data juga oleh ekonom dan analis lainnya. Pendiri dan pemilik Camilli Economics, Kathleen Camilli, beberapa hari lalu malah haqul yakin AS sudah dalam resesi. Pro kontra resesi terus terjadi, tapi yang pasti tidak satu orang-pun yang dapat memastikan kapan masa itu (resesi) akan dimulai, atau kapan akan berakhir.
Apapun itu, data terbaru menunjukkan laju inflasi AS sepanjang 2007 mencapai 4,1 persen atau meningkat tajam ketimbang tahun 2006 sebesar 2,5 persen dan ini angka tersebut merupakan yang tercepat sepanjang 17 tahun terakhir, yang mana tahun 1990 mencapai 6,1 persen. Kondisi ini diperparah dengan belum pulihnya pasar kredit perumahan yang terus menelan korban perusahaan-perusahaan kakap maupun kelas menengah di belahan dunia ini. Penjualan ritel AS periode Desember 2007 ternyata turun 4 persen atau jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar. Setali tiga uang, indeks harga produsen juga menyusut minus 1 persen dari bulan sebelumnya 3,2 persen. Belum lagi melemahnya data lapangan pekerjaan di AS. Bahkan kerugian di subprime mortgage diestimasi mencapai antara 160-200 milyar dolar AS. Semua bermuara pada satu arah, yakni indikasi terjadinya resesi.

Kenaikan harga minyak dunia dan komoditi, situasi geopolitik plus perkiraan mengetatnya kredit membuat investasi di AS semakin melambat. Dampaknya, akselerasi ekonomi juga tersendat dan ini memaksa The Fed untuk memangkas tingkat suku bunga minimal 25 basis poin. Tapi banyak kalangan yang yakin bank sentral AS akan menempuh jalan terjal dengan memangkas 50 basis poin.

Pemangkasan suku bunga memang bisa memperlonggar ruang gerak bidang moneter dan memacu investasi untuk jangka pendek. Tapi efek yang ditimbulkan justru lebih mencemaskan, penurunan suku bunga bisa membuat dolar melemah dan ini tidak bagus buat pasar minyak dunia plus harga komoditi lainnya yang akan terpacu untuk terbang lebih tinggi. Pasar kredit-pun dipercaya belum akan pulih meski The Fed memangkas suku bunganya. Perhatikan saja, hingga kini belum ada satu kebijakanpun yang mampu meredam gejolak di pasar kredit dan bagaimana mengatasi kerugian yang sangat besar.

Konflik politik di AS menjelang pemilu semakin menghangat. Alih-alih bakal membaik, ekonomi AS bisa saja semakin terjerumus yang akan menyeret ekonomi global. Kita lihat saja, apakah ekonomi negara adidaya itu bisa bertahan atau mencatat negative atau zero growth. So, bagaimana dengan Indonesia?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: