Lesunya Bursa Saham di Era Soeharto

28 01 2008

Untuk menunjukkan ekonomi Indonesia mengikuti arus modernisasi seperti negara lain di dunia, mantan Presiden Soeharto mengaktifkan kembali pasar modal Indonesia pada 10 Agustus 1977. Bursa saham dinilai menjadi tolak ukur sebuah negara menuju era modern. Namun sepanjang sejarah saham di era Soeharto bursa saham Indonesia belum pernah menciptakan sesuatu yang spektakuler bahkan cenderung lesu.

Sebenarnya Indonesia telah memiliki bursa efek pertama di Jakarta (dulu Batavia) oleh pemerintah Hindia Belanda pada 14 Desember 1912. Kondisi dunia yang kala itu penuh dengan peperangan membuat bursa efek di Batavia tutup selama perang dunia I pada tahun 1914 – 1918. Kemudian bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan bursa efek di Semarang dan Surabaya pada 1925 ; 1942. Awal tahun 1939 karena isu politik perang dunia II, bursa efek di Semarang dan Surabaya ditutup. Lagi-lagi pada 1942; 1952 bursa efek di Jakarta ditutup selama Perang Dunia II. Baru pada tahun 1952, bursa efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman Lukman Wiradinata dan Menteri Keuangan Prof DR Sumitro Djojohadikusumo. Instrumen yang diperdagangkan kala itu adalah Obligasi Pemerintah RI tahun 1950. Pengaktifan kembali bursa juga tidak berjalan mulus.

Pada 1956 muncul program nasionalisasi perusahaan Belanda yang membuat bursa efek semakin tidak aktif. Selanjutnya pada 1956; 1977 perdagangan di bursa efek vakum. Harapan muncul lagi, ketika bursa efek diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 10 Agustus 1977 dalam kondisi politik Indonesia yang sudah relatif stabil. Ada harapan bursa saham Indonesia akan semarak dengan munculnya investor-investor baru. Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama. Tapi yang terjadi pengaktifan pasar modal ini kurang mendapat respons dari investor. Sepanjang 1977; 1987, perdagangan di bursa efek sangat lesu.

Jumlah emiten hingga 1987 baru mencapai 24 emiten. Masyarakat waktu itu lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen pasar modal. Di era Soeharto, perusahaan-perusahaan yang menjadi emiten di bursa juga kebanyakan adalah perusahaan milik kroni Cendana. Perusahaan milik anak-anak Soeharto juga tidak terhitung banyaknya yang melantai di bursa. Contoh kecilnya adalah Bimantara, Citra Marga Nusaphala, Humpuss Intermoda. Titiek Soeharto bahkan pernah menjadi komisaris di BEJ ketika komisaris utama dipimpin Fuad Bawazir. Belum sempat mencatat prestasi yang membanggakan, bursa saham malah jungkir balik di tahun 2001 karena krisis moneter Asia dengan kejatuhan IHSG terendah di posisi 342,85 setelah sebelumnya sempat di level 600-an. Soeharto mengakhiri jabatannya di 2001 dengan pasar saham yang kocar-kacir ditendang krisis. Pelaku pasar pun kini berharap era buruk pasar saham seperti zaman Soeharto tidak terulang kembali.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: