Ide dan Entrepreneurship

12 03 2008

Ide merupakan salah satu dorongan seorang entrepreneur untuk memulai suatu usaha. Namun, ada kalanya Anda harus menstop ide Anda. Kapankah hal terebut harus terjadi?

 

Pertama, ketika pelanggan tidak kunjung datang kepada Anda.

Seheboh apapun media membicarakan Anda, investor dan teman-teman Anda memberikan selamat, namun jika pelanggan tidak kunjung datang juga, apa artinya?

Intinya, pelanggan yang menghasilkan bisnis bagi Anda, mereka juga yang menghasilkan laba bagi Anda. Jika segenap usaha sudah Anda lakukan, termasuk menggalakkan aktivitas pemasaran, namun pelanggan tidak kunjung datang, maka bukan berarti ide Anda buruk. Ide yang brilian, namun tidak bisa dipasarkan maka percuma saja.

Contohnya adalah Segway, sejenis skuter yang diperkenalkan pada Desember 2001. Investor besar seperti John Doerr dan Jeff Bezos (Amazon) bahkan memberi selamat. Media bahkan berpendapat bahwa perangkat ini akan mengubah bagaimana sebuah kota dibangun. Namun nyatanya apa? Segway hanya berhasil menjual kurang dari 30,000 unit dalam kurun waktu lebih dari enam tahun. Jelas bukan merupakan revolusi.

Anda ingat Apple Newton? Newton puny aide brilian ketika memperkenalkan PDA pertama kalinya, namun pasar belum menerima dengan baik. Namun ketika beberapa tahun kemudian Palm memperkenalkan konsep yang sama, PDA menjadi meledak di pasaran.

Pelajaran yang bisa diambil: Se-brilian apapun produk Anda, namun jika Anda tidak dapat mengkomunikasikan value-nya, maka sama halnya produk Anda tidak eksis.

 

Kedua, karena keunggulan kompetitif tidak bisa terus bertahan. Ide baru tentunya akan menimbulkan suatu persaingan. Kuncinya adalah bagaimana Anda bisa bertahan dalam persaingan tersebut.

Misalnya Friendster, pionir dalam social networking yang diperkenalkan pada 2002, adalah contoh ide brilian yang tidak bisa mempertahankan keunggulan kompetitif. Hal ini disebabkan strategi dan teknologi mereka mudah direplikasi. Ini jugalah yang mendorong Rupert Murdoch dengan News Corp-nya dengan senang hati shell out $580 million for rival MySpace in 2005.

Pelajaran yang bisa diambil: Ide adalah sesuatu yang membuat Anda masuk ke permainan, sementara keunggulan kompetitif adalah sesuatu yang membuat Anda bisa bertahan disana. Jika Anda tidak dapat memperoleh ide bagaimana bisa tetap menang di pasaran, maka mulai carilah ide yang baru.

 

Ketiga, Anda masih belum siap untuk focus secara penuh. Ketika Anda memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur, jika Anda ingin mencapai sukses, Anda harus siap untuk focus secara penuh. Atau dengan kata lain, mungkin sampai ke level meninggalkan pekerjaan Anda saat ini.

Jika Anda punya ide brilian, dan Anda berusaha untuk mewujudkannya, sementara fokus Anda terbagi, maka apa yang Anda lakukan hasilnya akan jadi setengah-setengah. Oleh karena itu, maka ini adalah trade off yang harus Anda hadapi. Putuskan, komitmen Anda ada dimana. (diadaptasi dari ‘When To Dump That Great Idea’ oleh Wil Schroter)

 


Aksi

Information

2 responses

1 06 2008
Giyanto

Wah, saya juga lagi dalam tahapan ini. Masalahnya, saya belum bisa fokus untuk menggeluti “bisnis baru” yang rencana akan saya terjuni. Karena ortu ngejar2 agar saya rampung kuliah dulu. Gimana pak? padahal sebenarnya saya sudah tidak tahan dengan celoteh teori dosen2 di kelas.
Akhirnya “bisnis lama” terbengkelai. Dan kuliah/skripsi tidak sepenuh hati.
Gimana?

2 06 2008
Nusantara

Mas Giyanto terhormat,

Saya dulu juga punya pengalaman hampir sama dg yg dijalani Mas Giyanto skrg. Tapi, pd satu kesempatan, aku coba pikir lebih jernih lg soal MAUNYA ORTU.

Dari hasil “pertapaan” dan mencoba menjalin komunikasi dg diri ini, maka aku putuskan utk mengikuti petunjuk, harapan ortu.

Dalam berkarir (bidang apapun) maupun berwirausaha, TOTALITAS sangatlah dibutuhkan. Nah, utk dpt TOTALITAS dlm aktifitas kita diperlukan konsentrasi. Sekarang bagaimana kita dapat ber-konsentrasi dg “bisnis baru” sedangkan “hutang” sekolah masih belum lunas?? Tak akan pernah ada TOTALITAS!!

Saran saya, lunasilah dulu apa saja yg mampu utk dilunasi sesegera mungkin. Agar “bisnis baru” Mas Giyanto nantinya akan lebih maximum performance nya.

Mudah2an bermanfaat.

salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: