Pelajaran dari Krisis Kredit Perumahan AS

31 03 2008

Krisis KreditKendati dari sisi perdagangan negara-negara berkembang Asia (termasuk Indonesia) relatif sudah bisa lebih mengurangi ketergantungan kepada pasar AS dan negara maju lain, risiko terkena dampak krisis AS masih dimungkinkan dari saluran pasar uang. Semakin terintegrasinya pasar Asia dengan pasar finansial global membawa konsekuensi semakin rentannya Asia terkena imbas dari krisis yang terjadi di AS. Termasuk di sini risiko pembalikan modal secara mendadak di pasar saham dan surat utang seperti terjadi di Indonesia sekarang ini.

Kendati praktik pemberian kredit yang tidak hati-hati oleh perbankan sudah jauh menurun dibandingkan sebelum krisis, tendensi peningkatan kredit macet yang sifatnya konsumtif dan meningkatnya tingkat utang di level rumah tangga (seperti terjadi di AS) juga terlihat di Asia beberapa tahun terakhir.

Termasuk di antaranya angka kredit macet kartu kredit, kredit perumahan, kredit kendaraan, dan kredit pembelian barang lain. Tak terkecuali di Indonesia, di mana lonjakan kartu kredit macet sudah dikeluhkan oleh Bank Indonesia dalam beberapa kesempatan.

Selama dekade ini saja, Asia mencatat beberapa kali krisis kredit macet kartu kredit, di antaranya di Hongkong tahun 2002, Korsel (2003), dan Taiwan (2006). Krisis ini dipicu oleh penyaluran kartu kredit yang eksesif, terutama karena ketatnya persaingan di kalangan penerbit kartu kredit yang memanfaatkan booming pasar dan konsumsi dalam negeri.

Untuk mencegah kejadian serupa seperti di AS, Dana Moneter Internasional (IMF) menekankan pentingnya memperketat pengawasan terhadap lembaga keuangan dan transaksi di pasar uang, serta kebijakan moneter dan fiskal yang lebih akomodatif.

Menurut Priyanka Chandran dari Faculty of Management Studies University of Delhi (Lessons from Subprime Meltdown), setidaknya ada tujuh pelajaran penting yang bisa dipetik dari krisis subprime mortgage di AS. Pertama, bahwa adanya insentif distortif instrumen investasi yang tidak dibarengi akuntabilitas sama saja dengan mengundang bencana. Kedua, bank-bank sentral harus lebih tegas menghadapi terjadinya moral hazard di pasar.

Ketiga, alokasi risiko (seperti dalam transaksi derivatif) tidak boleh diartikan sebagai eliminasi risiko atau risiko menjadi nol. Keempat, model matematis yang kompleks seperti dipakai dalam transaksi derivatif pun bisa gagal atau menipu. Kelima, pentingnya penilaian terhadap risiko yang sebenarnya dari sekuritas. Keenam, pentingnya analisa terhadap sejarah/track record kredit para debitor. Ketujuh, perlunya perlindungan lebih baik terhadap konsumen.


Aksi

Information

One response

1 09 2008
samsul

mas, terima kasih atas info dan blognya yg telah saya baca…….
bagaimana kira2 prospek bisnis di dunia properti, soalnya saya banyak berkecimpung di material bahan bangunan. untuk info dan sarannya makasih.

samsul.
biasoneri@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: