Strategi Superinvestor menghadapi Supersiklus

22 04 2008

Ada rekan, yakni, Djoko Santoso Soenoe; Ketua National Association of Public Investors (Napkins) yang menurut saya sangatlah kompeten dan serius mencari celah diantara hantaman ombak krisis. Berikut adalah salah satu ulasan beliau yang diharapkan dapat memberi seteguk dahaga, pencerahan pada kita semua.

superinvestorPasar dunia tengah menghadapi sebuah siklus ekonomi  yang disebut supersiklus. Hasilnya, seluruh harga aset melambung jauh melebihi batas sejarah. Menunggangi supersiklus pada momentum yang tepat menghasilkan super capital gain.

Sebaliknya, menunggangi pada saat bergejolak mengandung supertantangan dan risiko. Tidak sembarang investor siap menghadapinya, termasuk otoritas pasar.

Orang Taiwan menyebut Jim Rogers sebagai superinvestor, berada di balik kebangkitan bursa Taiwan akhir-akhir ini. Mari kita belajar dari Jim. Dia juga berada di balik kenaikan harga komoditas dunia.

Bagaimana strategi kita berikutnya, agresif atau konservatif?

Pertama, untuk saat ini investasi yang paling menguntungkan adalah komoditas. [Super]siklus kali ini berlangsung hingga 2013-2018. Akan tetapi, hati-hati, akan ada ada koreksi. China [bukan Amerika] telah mendorong sebagian besar dari kenaikan dan akan menyebabkan sebagian besar dari penurunan. Jadi, hati-hatilah. Jika China bersin, dunia akan merasakannya. (baca Hot Commodities).

Kedua, simak Investors Beware (Bisnis, 31 Juli 2007). Pada 18 Januari 2007 ketika harga minyak turun ke US$52, Jim Rogers berkata: “Saya tidak cukup cerdas untuk mengetahui seberapa jauh harga minyak ini akan turun dan dalam waktu berapa lama. Tapi saya tahu, dalam konteks pasar yang bullish, harga minyak akan naik melebihi US$100. Lalu [naik lagi] menembus US$150, apakah itu 2009 atau 2013, saya tidak tahu. Yang saya tahu itu pasti akan terjadi.”

Nah, harga-harga komoditas benar-benar naik pada waktunya sesuai dengan ramalan Jim, dan minyak benar menembus US$100. Pertanyaan selanjutnya, apakah Jim juga benar bahwa angka US$150 akan dicapai, juga pada waktu seperti yang dia duga? Kapan? Kenapa dia menyebut dua skenario, 2009 atau 2013?

Untuk sementara, kita sepakati dulu US$150 adalah harga tertinggi dalam supersiklus kali ini. Skenario pertama, harga US$150 terjadi pada 2009, setelah itu akan terjadi koreksi harga komoditas, dan koreksi tersebut akan brutal seperti yang biasa terjadi.

Konsekuensinya, investor akan melakukan penjualan saham-saham dari emiten komoditas tambang, sumber alam dan emiten yang memberikan jasa di sektor ini, karena investor saham menghitung jauh ke masa depan.

Lantas, apakah itu artinya 2009 menjadi tahun puncak harga komoditas? Mungkin itu tidak terjadi, karena di bagian lain, Jim Rogers menyebut bahwa siklus bullish komoditas baru akan selesai setelah 2013-2018, mengingat masa bullish normal secara historis bagi komoditas adalah 15 tahun. Jadi, penurunan harga komoditas pada skenario pertama ini akan sementara, kemudian naik kembali pada 2013.

Skenario kedua, jika harga US$150 dicapai pada 2013 maka yang diperkirakan Jim Rogers adalah akan ada koreksi (setbacks) harga komoditas pada saat ini setelah menembus harga bahkan US$110, sebelum kemudian berbalik arah kembali naik pada 2013.

Dari kedua skenario diatas, apakah harga US$150 dicapai pada 2009 atau 2013, kesimpulannya adalah, akan terjadi penurunan harga komoditas dari level saat ini atau harga-harga saham sektor komoditas atau sektor jasa pendukung kebangkitan sektor komoditas.

Apa pemicunya? Resesi di Amerika memang sudah diduga, tetapi Jim Rogers minta kita lebih melihat China. Sampai saat, ini China belum bisa meyakinkan pasar bahwa upaya menurunkan inflasi dengan menaikkan suku bunga akan berhasil.

Buktinya, indeks Shanghai yang telah turun 40% (2.500 poin) dari level puncak November 2007 masih belum menunjukkan tanda pemulihan. Jim sendiri tidak tahu pasti seberapa jauh koreksi indeks Shanghai akan terus berlangsung. Akan tetapi, dia pernah menyebut (dalam konteks pasar China yang sedang bullish) koreksi 1.000 sampai 2.000 poin adalah wajar, dan dia tetap tidak akan keluar dari pasar China.

Pasar tengah menyesuaikan diri dengan resesi di Amerika dan penurunan pertumbuhan ekonomi global, termasuk negara BRIC. Yang belum diketahui adalah seberapa dalam keterpurukan bakal terjadi dan kapan pemulihan dimulai. Lebih dari itu, sekali lagi mari kita melihat China ketimbang Amerika untuk menentukan apakah strategi investasi kita masih agresif atau konservatif.

Jangan ceroboh

Lebih dari sebuah supersiklus, supertantangan kita sebenarnya adalah sebagai manusia biasa. Lihatlah penulis, yang telah bangkrut karena terlalu hanyut. Barangkali oleh hal-hal yang sepele. Emiten ditutup, kena delist, lalu dibuka lagi.

Sekali lagi penulis mengingatkan, aturan pertama adalah: “No wonder, Satan has money.” Pada saat Anda menang, ujian pertama adalah kecerobohan. Hampir pasti Anda greedy, ingin membeli lagi, dan kurang hati-hati. Pada saat kalah besar, Anda menjadi sangat takut, menyesal luar biasa. Aturan kedua adalah, “Remember, God has majesty.” Bahwa kemenangan atau kekalahan adalah karena kebesaran Tuhan. Jangan pernah menjadi ceroboh atau tamak.

“Aku telah melakukan kesalahan. Tidak sabar dan arogan seperti babi.” Demikian James Bond setelah kalah lima juta dolar di Casino Royale. Pacarnya menimpali: “Kau kalah karena egomu, James!”

Jim Rogers pernah rugi karena short-sell minyak sesaat sebelum perang Irak-Iran. Harga minyak lalu meroket, dia terpaksa menutup transaksi short dan menerima kerugian. “Saya panik, seperti investor pada umumnya.” Ternyata, ujian yang paling berat sebagai investor, termasuk Jim Rogers, lebih dari sekadar memutuskan kapan membeli atau kapan menjual.

Apa yang mau dibeli atau apa yang mau dijual. Akan tetapi, ternyata adalah menguasai diri, mengendalikan panik, sombong (arrogant), tamak (gluttony), cemas (nervous), takut (fear), waswas (worry), menyesal (sorry) dan tidak sabaran (impatient).”

Investor yang berhasil adalah mereka yang siap mental baik pada saat untung maupun menanggung rugi jika pasar tidak seperti yang diharapkan. “Keberuntungan akan selalu bersama pribadi-pribadi yang bermental siap,” kata Jim Rogers (Prepared Mind, Bisnis 11 Feb. 2008).

Sejumlah besar investor lokal di BEI lahir selama masa bullish besar lima tahun terakhir ini. Setiap ada acara temu investor, peminatnya selalu berlebih. Sebagai konsekuensi dari keuntungan besar yang diraih setiap tahun berturut-turut dalam waktu yang cukup lama, terbentuklah sebuah pola pikir yang membahayakan, bahwa membeli saham harus untung.

Tidak semua kisah jual beli saham, selalu berakhir dengan kemenangan, tetapi juga jangan kapok dan mudah putus asa, kekalahan adalah sebuah pelajaran berharga.


Aksi

Information

One response

25 07 2008
Jonathan Haryanto

Artiekel yang menarik. Untuk ke depan, lihat ke Chine, ini merupakan pesan penting. Melemahnya nilai dolar dan memburuknya pasar modal AS yang diikuti oleh sejumlah bursa di dunia mengakibatkan pengalihan investasi dari pasar finansial ke pasar komoditas. Hal ini turut meningkatkan harga komoditas, seperti minyak mentah. Kenaikan harga komoditas pangan dan energi dunia turut memberikan tekanan kepada pertumbuhan ekonomi global.
Jonathan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: