Dilema Kenaikan BBM

28 04 2008

bbmHARGA minyak dunia di pasar spot pada hari Jumat pekan lalu sempat menyentuh angka 117 dollar AS per barrel. Sementara, harga minyak dunia pada saat pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebesar 126 persen pada akhir tahun 2005, masih bertengger pada angka 45 dollar AS per barrel.

Patokan harga dan subsidi BBM di dalam negeri memang bukan ditetapkan berdasarkan harga minyak dunia di pasar spot, tetapi antara lain didasarkan pada harga rata-rata minyak Indonesia (ICP) dalam setahun, kemampuan produksi minyak (lifting), dan besarnya konsumsi BBM di dalam negeri.

Dalam APBN Perubahan 2008, patokan harga minyak ditetapkan 95 dollar AS per barrel, dengan produksi minyak 927.000 barrel per hari. Sedangkan volume konsumsi BBM bersubsidi yang bisa ditoleransi adalah hingga 39 juta kilo liter.

Dengan kata lain, bila realitasnya patokan harga minyak atau asumsi yang telah ditetapkan dalam anggaran negara itu meleset, otomatis harga BBM bersubsidi seharusnya dinaikkan. Namun, logika ekonomi itu bisa gugur jika pemerintah khususnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menimbangnya secara politis.

Jika kenaikan harga BBM akan melunturkan citra presiden, tentu opsi tersebut tidak akan diambil meski harga minyak sudah melonjak tinggi. Dan, keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, sudah kadung dilontarkan presiden.

Namun, masyarakat juga sudah memaklumi bahwa janji itu baru sebatas janji politik demi mengamankan citra politik pemerintah menjelang Pemilu 2009.

Saat ini memang tidak mudah bagi pemerintah untuk bersikap realistis dengan perekonoman global yang diwarnai kenaikan harga minyak, kelangkaan energi, kenaikan harga komoditas, dan resesi ekonomi dunia. Dengan meroketnya harga minyak dunia, pemerintah sebagaimana diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, masih akan mengamati realisasi anggaran negara hingga Juni 2008.

Dengan demikian, opsi kenaikan BBM akan diputuskan setelah bulan Juni nanti. Opsi ini memang langkah terakhir karena pemerintah masih memiliki langkah untuk melakukan penghematan. Misalnya, dengan memangkas anggaran kementerian dan lembaga nondepartemen antara 10-20 persen.

Pemerintah juga melakukan penghematan penggunaan BBM bersubsidi. Produksi minyak tanah sudah mulai dikurangi meski langkah ini sangat memukul rakyat kecil terutama para nelayan. Langkah penghematan ini tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan langkah serupa oleh seluruh lapisan masyarakat. Jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM tahun ini, sebenarnya hanya mengalihkan persoalan dan komplikasi serta keterbatasan angggaran negara kepada rezim pemerintahan berikutnya.

Dengan kata lain, kenaikan harga BBM diperkirsakan akan tetap terjadi meski tidak dilakukan tahun ini atau tidak akan diputuskan oleh rezim pemerintahan sekarang. Masalah BBM akan menjadi bom waktu yang bisa menimbulkan keresahan dan kerusuhan di dalam masyarakat kalau tidak dilakukan sosialisasi dengan tepat dan berkesinambungan. Sosialisasi itu hendaknya bisa mengkomunikasikan data dan fakta soal harga minyak dunia dan kenaikan konsumsi BBM di dalam negeri serta keterbatasan anggaran negara. Jika itu bisa dilakukan, niscaya masyarakat akan bisa memahaminya.

Namun pada saat yang sama, pemerintah juga harus mengintroduksi program jaring pengaman sosial bagi lapisan masyarakat bawah.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: