Kekayaan Minyak Picu Konflik

19 05 2008

Dunia kini lebih aman dibandingkan 15 tahun lalu. Namun, khusus di negara-negara penghasil minyak, konflik tak kunjung turun. Penyebab utamanya adalah kekayaan minyak malah sering merapuhkan ekonomi dan politik, yang membuat pemberontak mudah menggalang dana untuk memicu konflik etnis.

Demikian tulisan berjudul ”Why Oil Wealth Fuels Conflict” oleh Michael L Ross, profesor Ilmu Politik dari University of California, Los Angeles. Tulisan ini muncul di situs RealClearPolitics pada 9 Mei lalu, mengambil salah satu tulisan yang muncul di Foreign Affairs edisi Mei/Juni 2008.

Konflik di negara penghasil minyak sekitar 30 persen dari total konflik dunia, naik dari 20 persen pada tahun 1992.

Lebih dari 12 negara di Afrika, Kaspia, dan Asia Tenggara akan tampil sebagai penghasil minyak. Sebagian negara ini, Chad, Timor Timur, dan Myanmar, telah terjebak konflik internal. Hampir semua negara ini memiliki rakyat miskin, tak demokratis, dan dipimpin pemerintahan tak becus. Ini membuka kesempatan lebih lebar pada konflik.

Hal serupa juga terjadi di negara penghasil berlian, emas, tembaga, dan logam berharga lainnya. Namun, minyak pemicu terbesar konflik.

Malah jadi miskin

Booming minyak dekade 1970-an memberi kemakmuran bagi para penghasil minyak. Pertumbuhan ekonomi melejit. Namun, tiga dekade berikutnya banyak negara ini yang terlilit utang, memiliki pengangguran tinggi, dan mengalami penurunan kinerja perekonomian.

Setidaknya ada setengah dari anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang lebih miskin tahun 2005 daripada 30 tahun lalu. Bahkan, negara penghasil minyak yang memberi harapan, seperti Aljazair dan Nigeria, terjebak konflik internal selama beberapa dekade.

Salah satu penyebab adalah penyakit belanda (Dutch disease). Julukan kepada Belanda yang kaya mendadak pada dekade 1960-an setelah menemukan cadangan gas di Laut Utara. Masuknya devisa dari ekspor gas ke Belanda menyebabkan nilai mata uangnya menguat, yang selanjutnya menurunkan daya saing ekspor. Produk pertanian dan manufaktur Belanda mengalami penurunan daya saing. Di Nigeria, booming minyak pada dekade 1970-an juga membuat kinerja ekonomi anjlok dan hingga kini tak pulih.

Faktor lain adalah pembelanjaan devisa dari minyak yang tidak disiplin karena banyak dialokasikan ke proyek yang tak berguna. Kazakhstan dan Nigeria mengalokasikan hasil minyak dengan membangun ibu kota baru, tetapi gagal menyalurkan air ke berbagai desa, yang sangat dibutuhkan rakyat pedesaan.

Negara-negara penghasil minyak dengan kemampuan pemerintahan yang bagus, seperti Kanada dan Norwegia, terhindar dari masalah ini. Namun, selebihnya hampir semua penghasil minyak terjerembab kemiskinan dan persoalan yang membelit.

Sumber korupsi

Negara-negara penghasil minyak juga terjebak konflik politik karena devisa menjadi sasaran empuk para koruptor. Devisa minyak memperkuat para diktator dan melemahkan demokrasi. Pemerintah Iran, Venezuela, dan Rusia memiliki dana besar dari minyak dan menyingkirkan musuh-musuh politik dengan uang.

Para penghasil minyak yang baru juga di ambang konflik karena suburnya pemberontakan, seperti kini yang sedang terjadi di Delta Niger (Nigeria) dan Thailand selatan, Aljazair, Kolombia, Sudan, dan juga Irak.

Konflik terbentuk lewat tiga cara. Pertama, devisa bisa memicu ketidakstabilan ekonomi (penyakit belanda), yang memicu benih konflik politik. Ketika orang kehilangan pekerjaan, mereka akan menjadi lebih frustrasi dan mudah direkrut menjadi pemberontak untuk menentang pemerintahan berkuasa.

Kedua, kemakmuran dari minyak sering membantu gerakan pemberontakan. Pemberontak bisa dengan mudah mencuri minyak dan menjualnya di pasar gelap, seperti terjadi Irak dan Sudan. Pemberontak juga bisa memeras perusahaan minyak yang beroperasi di daerah terpencil, seperti di Kolombia dan Sudan, atau pemberontak mencari mitra untuk membantu penjungkalan pemerintahan berkuasa, seperti di Guinea- Ekuatorial dan Kongo.

Ketiga, kemakmuran minyak bisa memicu separatisme. Daerah yang memiliki kekayaan minyak, akan mengalami kebangkitan harga diri jika wilayah mereka tidak dikembangkan. Ini menjadi alasan bagi mereka melancarkan separatisme atau meraih otonomi lebih luas dari pemerintah pusat, seperti di Bolivia, Indonesia, Iran, Irak, Nigeria, dan Sudan.

Namun, tak semua penghasil minyak hancur. Yang lolos dari konflik adalah negara penghasil minyak dengan pemerintahan yang pintar, cekatan, tak korup. serta piawai menjalankan pemerintahan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: