Berperang Melawan Bloodied Investor

11 06 2008

bandarBanyak analis perkonomian memprediksikan harga minyak dunia bisa menembus angka fantastik, US$ 200 per barel. Kenaikan harga yang gila-gilaan ini adalah akibat ulah spekulan yang membuat perekonomian dunia jatuh dalam krisis berkepanjangan

Saat ini, rekor harga minyak dunia menembuas angka US$ 138,5 per barel. Pasar memang bergerak sangat luar biasa. Bayangkan, dalam delapan bulan terakhir, harga minyak dunia naik tajam dari US$ 80 menjadi US$ 135 per barel. Demikian pula harga pangan melonjak tajam sejak tahun 2005.

Badan Pengawas Bursa Berjangka AS (Commodities Futures Trading Commission /CFTC) melaporkan kepada Kongres AS bahwa kenaikan harga minyak secara sistematis didorong oleh ulah para spekulan.

Bahkan banyak analis pasar memperkirakan sekitar US$ 10 hingga US$ 20 setiap kenaikan harga minyak yang tercatat sekarang ini karena ulah spekulan. Mereka adalah para swaps dealer yang berasal dari kombinasi perusahaan minyak raksasa AS, dan juga para spekulan lain. Mereka masuk ke pasar untuk meraup untung di samping para spekulan tradisonal.

Bahkan ada pelaku kakap yang menimbun minyak dalam jumlah besar, dengan tujuan mengaburkan supply and demand minyak di pasar. Mereka menciptakan situasi pasokan demikian seret, sehingga harga menjadi terdistorsi naik. Pendek kata, ulah para spekulan mermodal besar ini akhirnya menjungkirbalikkan harga pasar normal.

Harga minyak akhirnya bukan merupakan harga pasar murni karena penawaran dan permintaan, namun sudah merupakan harga spekulatif. Tak aneh kalau harga bisa melambung hingga mendekati prediksi banyak analis, US$ 200 per barrel. Itu bukan merupakan kemustahilan.

Kenaikan Semu

Kenaikan harga minyak di luar kewajaran ini (kemungkinan besar) terjadi akibat ulah orang-orang kaya yang kurang kerjaan di negara-negara maju (dikenal sebagai bloodied investors) bisa membuat dunia kian jatuh dalam krisis berkepanjangan.

Setidaknya ada sekitar US$ 516 triliun dana investasi yang masih gentayangan mencari mangsa, yang berpotensi menjadi kekuatan perusak ekonomi dunia. Dengan uangnya yang diinvestasikan sebagai toxic derivatives, seperti berjudi beberapa menit dalam pasar bursa valas (termasuk pasar komoditas), ekonomi dunia bisa menjadi berdarah-darah.

Tentu pengkajian dan analisis yang lebih mendalam terhadap persoalan ini perlu dilakukan. Para bloodied investors itu tentu saja cuek bahwa ada banyak orang terjerumus dalam masalah ini. Ada banyak korban yang berjatuhan karena kantungnya terkuras kenaikan minyak dunia yang berimbas pada kenaikan harga BBM domestik.

Bahkan yang luar biasa, kenaikan harga minyak dunia akibat ulah para spekulan ini telah mampu menambah miliaran jumlah orang miskin baru. Terlebih di Indonesia, kondisinya bertambah parah. Jumlah orang miskin baru (OMB bukan OKB) pascakenaikan harga BBM bertambah banyak, bahkan kategori nyaris miskin, akan bertambah banyak.

Orang yang frustasi, menjadi stres, gila bahkan bunuh diri karena kehilangan pengharapan akan semakin bertambah banyak. Inilah yang namanya balada orang kaya yang menindas orang miskin. Namun, itulah realitas yang terjadi di depan mata.

Motor Penggerak

Sebagai penghasil BBM terbesar di dunia, Indonesia semestinya tidak terus mengikuti tren semu kenaikan harga minyak dunia akibat transaksi derivatif ini. Sudah saatnya Indonesia juga memacu produksi dalam negeri (lifting), agar konsumsi BBM dalam negeri terpenuhi (dibarengi penghematan secara ketat), sehingga semua kebutuhan domestik akan terpenuhi dengan baik, tanpa harus impor minyak. Hanya dengan cara itu, kenaikan harga BBM akan dirasa lebih adil dan bisa diterima semua pihak, karena semua pihak sudah bersinergi melakukan semua upaya terbaiknya.

Bayangkan, di tengah menurunnya konsumsi minyak dunia, ternyata harga minyak dunia tetap naik. Maklum, transaksi derivatif (pasar komoditas) sudah memberikan peluang bagi para pemilik modal besar tak bermoral (bloodied investor) untuk memainkan harga minyak dunia. Itu berarti ada sesuatu yang harus dibereskan dengan transaksi di pasar komoditas dunia ini. Terlebih untuk komoditas jenis minyak bumi (dan pangan) yang sungguh sangat strategis. Keberadaannya akan tetap menjadi incaran para spekulan, yang ingin memanfaatkan peluang di tengah-tengah penderitaan masyarakat di seluruh dunia sekarang ini.

Oleh sebab itu, regulasi sektor financial (termasuk regulasi di pasar komoditas beserta dengan pengawasan perdagangan) di tingkat dunia, perlu segera dilakukan.

Pasar finansial selama ini dikuasai oleh negara-negara besar seperti AS, Uni Eropa, Jepang, dan Tiongkok. Oleh sebab itu, regulasi sektor finansial di Negara-negara tersebut perlu segera dilakukan, sehingga pasar (komoditas) tidak selalu terdistorsi dengan ulah para spekulan yang seringkali ikut mengail di tempat yang keruh, tanpa etika dan moral sama sekali. Spiritnya sama, semua bentuk tindak spekulasi harus dibabat habis sampai ke akar-akarnya

Terakhir, pemerintah perlu berhitung dan menerapkan aturan windfall profit (dengan Perppu) terhadap kontraktor minyak asing terkait kenaikan harga minyak dunia. Jika hal itu bisa dilakukan, potensi keuntungan yang bisa diraih pemerintah dari windfall profit akibat lonjakan harga minyak dunia mencapai Rp 26,5 triliun.

Angka tersebut didapat dengan asumsi harga minyak hanya US$ 110 per barel, tingkat produksi 1 juta barel per hari, dan menggunakan basis harga US$ 70 per barel dari harga lama). Dalam hal ini pemerintah berhak meminta bagian sepertiga atau setengahnya dari windfall profiit yang diperoleh perusahaan migas asing untuk membantu program masyarakat miskin.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: