Sidang WTO lebih baik gagal

1 08 2008

We just serve them, but not being their servant. Kalimat yang tepat untuk menggambarkan pergulatan yang sedang dilakukan tim delegasi Indonesia dalam Putaran Doha Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Swiss.

Indonesia bersama negara berkembang lainnya yang tergabung dalam G-33 sah-sah saja menanggapi dan melayani usulan-usulan dari negara maju seperti AS, Uni Eropa, dan kelompok G-8.

Namun, bukan berarti G-33 harus menjadi pelayan negara adidaya itu dengan menuruti segala kemauan yang diinginkan negara-negara maju yang notabene menguntungkan bagi mereka. Melayani boleh, tetapi G-33 bukanlah pelayan mereka.

Justru negara-negara berkembang harus tetap ngotot mempertahankan agenda awal dalam melindungi produk pertanian dan nonpertanian.

Kemiskinan yang terjadi di negara berkembang dapat disebabkan oleh pernah dijajah atau bekas kolonialisasi, pemerintah salah urus negara, atau akibat hanya menjadi objek negara-negara maju. Melalui sidang WTO ini, negara-negara berkembang harus mampu membalik keadaan tidak hanya sebagai objek tetapi juga harus menjadi subjek dalam perdagangan global.

Namun, perkembangan sidang tersebut mengarah tidak akan mencapai kesepakatan, karena negara maju tetap mempertahankan angka subsidi domestik (domestic support), sedangkan G-33 tetap menginginkan special product (SP) dan special safeguard mechanism (SSM) serta penurunan subsidi negara maju terhadap sektor pertanian.

SP merupakan produk khusus yang mendapat perlindungan berbeda yang terdiri dari empat produk pertanian , yaitu kedelai, beras, gula dan jagung serta ditambah daging. Adapun SSM merupakan perlindungan terhadap produk dalam negeri yang kebanjiran barang impor.

Di putaran hari pertama perundingan antara menteri yang disebut sebagai proses green room, setelah 7 jam baru ada sedikit kemajuan. Salah satu angka yang keluar adalah nilai domestic support Amerika Serikat yang ditetapkan tidak boleh lebih dari US$ 15 miliar, naik dari yang berlaku saat ini US$7 miliar.

Sebagian besar negara masih merasa penurunan tersebut tidak efektif karena masih di atas permintaan G-20 sebesar US$ 12 miliar, dan belum mendekati US$13 miliar yang merupakan salah satu angka di dalam draft text yang ada sekarang.

Perundingan akhir hari pertama posisi berbagai isu utama pertanian ataupun non-pertanian, terlihat masih jauh dari titik kompromi.

Di sisi lain, AS dan negara maju lainnya keberatan dengan usulan SP dan SSM karena dianggap terlalu besar pengecualiannya.

Pemerintah, yang diwakili Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu merasa tidak puas atas draft text untuk pertanian yang cenderung memihak negara maju dan belum mencakup produk khusus dan mekanisme khusus pengamanan perdagangan (SSM).

Pada hari kedua, pertemuan dibatasi kepada Kelompok G-6 (Amerika Serikat, Uni Eropa, Brasil, India, Australia, dan Jepang) plus China karena sebagian besar perbedaan berada di antara negara-negara itu.

Di sisi lain, delegasi Indonesia dinilai belum maksimal dan kurang fight jika dibandingkan dengan India, China, dan Brasil. China dan Brasil masuk dalam G-6 plus China. Artinya mereka diakui mewakili negara berkembang, sedangkan Indonesia sebagai ketua G-33 malah tidak dilibatkan

Mendag pun sempat pesimistis terhadap sidang itu. Dalam siaran persnya disebutkan dipastikan SP dan SSM tidak masuk dalam paket kesepakatan yang disiapkan.

Tak sepakat

Dan memang, perundingan WTO yang berlangsung selama sembilan hari dan berakhir kemarin akhirnya tidak mendapatkan kesepakatan.

Hal itu menurut Mendag karena negara maju tidak menyetujui usulan negara berkembang terhadap perlindungan khusus perdagangan (SSM) jika dibanjiri produk impor pertanian yang sebagian besar berasal dari negara maju.

Negara maju menginginkan perdagangan normal tanpa ada perlindungan khusus. Tarik ulur tersebut, menurut Mari membuat kesepakatan tidak dapat dicapai.

Menurut dia, dengan kegagalan ini perdagangan global masih berjalan seperti biasa dan dia tetap berharap WTO tetap menjadi lembaga perdagangan yang adil dan memerhatikan kepentingan negara berkembang seperti Indonesia.

Menurut saya, tidak tercapainya kesepakatan itu lebih baik daripada harus mengikuti keinginan negara maju yang dapat mengancam produk pertanian negara-negara berkembang seperti Indonesia.

“Lebih baik tidak menemukan kesepakatan (putaran Doha di Swiss) daripada dibentuk kesepakatan yang dipaksakan oleh negara maju.”


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: