IHSG, antara Asa dan Cemas

4 08 2008

Lantai bursa Senin (4/8) ini berselimut dua jenis aura. Ada asa yang menggumpal, juga ada kecemasan yang merebak. Gerak maju IHSG diprediksi bisa berlanjut, tapi gejolak di pasar bursa global bikin waswas.

Penutupan perdagangan pekan lalu diwarnai mendung. Saham-saham di bursa di banyak negara berguguran. Sudah begitu, resesi ekonomi AS pun diperkirakan masih berlanjut di tengah fluktuasi harga minyak mentah.

Itu beberapa faktor eksternal yang meniupkan sentimen negatif bagi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari dalam negeri, angka inflasi Juli 2008 yang relatif tinggi (1,37%) ikut mempengaruhi indeks saham.

Akumulasi dari semua itu, membuat investor di lantai bursa cenderung memilih bersikap wait and see.

Di satu sisi, tren penguatan beberapa emiten, khususnya sektor pertambangan, jadi penyulut asa. Di sisi lain, kewaspadaan juga harus ditingkatkan mengingat situasi pasar masih terbilang rentan.

Laporan yang bertiup dari AS di akhir pekan lalu, misalnya, benar-benar mencemaskan. Membludaknya jumlah pengangguran dan memburuknya kinerja sejumlah perusahaan besar menyudutkan indeks di pasar saham AS.

Setelah terjadi koreksi Jumat (1/8), para pelaku perdagangan saham di BEI sebetulnya berharap Senin (4/8) ini terjadi rebound. Tapi, tampaknya, harapan itu kini mengecil. Rebound yang biasanya dicatat saham-saham unggulan kali ini bisa tak terjadi.

Semula, para pemain saham yakin IHSG di awal pekan ini menguat kembali. Setidaknya, indeks bisa bergerak di rentang 2.250–2.300.

Para investor berharap loyonya saham batubara bisa diimbangi geliat yang diperlihatkan efek-efek dari sektor perbankan, properti, perkebunan, dan infrastruktur. Lebih-lebih, pada semester I 2008, emiten di tiga sektor itu memperlihatkan kinerja yang cukup menawan.

Itu sebabnya, kami berani menyarankan agar investor mengalihkan pilihannya dan tidak lagi hanya mengandalkan laporan keuangan emiten yang bersifat temporer

Saat ini, misalnya, perdagangan minyak sawit mentah sedang terganggu banyak hal. Mulai dari sikap Pakistan yang menekan produk CPO Indonesia dengan bea masuk tinggi hingga negara-negara Eropa yang memperketat persyaratan untuk kualitas CPO yang masuk ke negara mereka.

Meski begitu, semua itu belum sampai menggangu kinerja emiten. Alasannya, permintaan minyak sawit mentah dunia masih cukup tinggi. Harga CPO yang belakangan menurun diyakini bakal kembali bergerak naik.

Tapi, memilih saham CPO kali ini harus dengan perhitungan ekstra cermat. Selain saham berbasis CPO, sejumlah analis juga merekomendasikan beli untuk saham-saham properti seperti CTRA dan CTRP.

Dari sektor infrastruktur, sejumlah analis menyodorkan saham PT Jasa Marga (JSMR) dan PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP).

Jagoan lawas yang tak boleh dilupakan adalah saham-saham telekomunikasi. Di sana, yang layak dipilih adalah sahamTelkom (TLKM), Indosat (ISAT), dan Bakrie Telecom (BTEL). Harga ketiganya dipercaya bakal memberikan gain lumayan.

Advis itu dicetuskan lantaran para analis kini betul-betul kesulitan menebak pengaruh faktor eksternal seperti gejolak di bursa saham luar negeri saat ini. “Sekarang, sebagus apapun kinerja emiten, jika bursa di mancanegara anjlok, harga sahamnya pasti merosot,” tegas sang analis.

Jadi?

Ya, buka mata dan buka teliga lebih lebar. Cermati terus perkembangan faktor-faktor eksternal yang bisa mempengaruhi IHSG. Begitu pula faktor di dalam negeri. Matangkan perhitungan sebelum menjatuhkan pilihan saham. Happy Trading!


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: