Longgarnya Kebijakan Moneter AS & Inflasi Global

7 08 2008

Spekulasi harga komoditas dan inflasi global adalah akibat kebijakan moneter longgar dari Federal Reserve Bank USA. Kondisi ini mengingatkan pada kegagalan kebijakan moneter Indonesia era 1997-1999 yang menyebabkan kejatuhan nilai tukar.

Bedanya, kesalahan kebijakan Negara kecil spt Indonesia hanya dirasakan rakyat Indonesia. Tapi kesalahan kebijakan Negara besar spt Amerika, Jepang, dan Euro Zone akan dirasakan oleh seluruh penduduk dunia.

Tekanan inflasi sampai bulan Juli 2008 tetap tinggi, dimana inflasi tahunan mencapai 11,90 persen dan inflasi tahun berjalan menjadi 8,85 persen. BI Rate pun naik menjadi sembilan persen. Siklus kenaikan BI Rate ini diperkirakan masih berlanjut.

Inflasi Global
Kenaikan inflasi terjadi merata di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, yang dilanda krisis finansial dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, inflasi mencapai lima persen. Tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Inflasi di wilayah Euro, yang secara ketat mengikuti target inflasi maksimal dua persen, telah mencapai empat persen. Jepang, yang pada periode 1999-2005 selalu dalam bayangan deflasi, sekarang mengalami lonjakan inflasi menjadi dua persen.

Negara sedang berkembang seperti China dan India, yang selama ini ekonominya tumbuh cepat tanpa disertai inflasi tinggi, mulai kesulitan mengendalikan inflasi. Inflasi di China dan India masing-masing 8,5 persen dan 7,7 persen, tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.

Menarik juga memperhatikan inflasi negara kecil yang sangat terbuka terhadap ekonomi dunia seperti Singapura. Singapura biasanya berhasil dalam mengendalikan harga meskipun terjadi guncangan ekonomi dunia. Sejak 1983 inflasi di Singapura hampir selalu di bawah dua persen, kecuali pada periode 1990-1994 yang sempat berkisar tiga persen. Sekarang inflasi Singapura mencapai 7,5 persen.

Gambaran perkembangan inflasi diatas dengan akselerasi pada semester pertama 2008 menunjukkan bahwa inflasi sekarang ini bukan hanya masalah spesifik sebuah negara. Inflasi sekarang ini merupakan fenomena global.

Penyebab Inflasi
Inflasi tinggi saat ini didominasi oleh kenaikan harga-harga komoditas, khususnya sektor energi (seperti minyak, gas, dan batubara) dan sektor pertanian (seperti gandum, beras, jagung, dan minyak nabati).

Guncangan pada sisi produksi terkait dengan bahan baku industri mempunyai dampak berantai pada biaya produksi barang-barang lain. Fenomena ini dikenal sebagai inflasi akibat kenaikan biaya produksi (cost push inflation).

Lonjakan tajam permintaan di era pertumbuhan tinggi ekonomi dunia 2003-2007, khususnya dari negara industri baru seperti China dan India, juga dianggap menyebabkan kenaikan harga-harga komoditas. Sebagai gambaran, hampir 40 persen pertumbuhan permintaan minyak dunia era 2000-an berasal dari pertumbuhan konsumsi minyak China.

Sejalan dengan semakin ekstrimnya kenaikan harga-harga komoditas sepanjang akhir 2007 sampai pertengahan 2008, faktor permintaan dan penawaran sektor riil tidak dapat lagi menjelaskan fenomena tersebut. Banyak pihak, seperti politisi, pemerintah, dan komentator, menyalahkan kenaikan harga-harga akibat spekulasi di pasar berjangka komoditas.

Inflasi adalah Fenomena Moneter
Dari berbagai faktor penyebab inflasi, seperti interaksi permintaan-penawaran dan spekulasi, jarang sekali disebut faktor kebijakan moneter. Hal ini sangat aneh mengingat semua sejarah inflasi tinggi dan gelembung harga aset (saham, properti, dan harga komoditas) selalu disertai kebijakan moneter yang longgar.

Kebijakan moneter longgar ini terjadi sejak pertengahan 2007. Untuk mengatasi krisis finansial, Bank Sentral Amerika menurunkan Fed Fund Rate secara agresif, dari 5,25 persen pada Agustus 2007 menjadi dua persen pada April 2008. Salah satu akibatnya adalah depresiasi tajam dolar Amerika sepanjang periode Juni 2007 sampai April 2008, yaitu sekitar 18.5 persen terhadap Euro dan 21 persen terhadap Yen.

Sejalan dengan melemahnya Dollar Amerika, investor mencoba melindungi nilai aset/investasinya dengan membeli kontrak-kontrak komoditas. Maka harga-harga komoditas naik tajam meskipun permintaan sektor riil sebenarnya menurun sejalan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Berhubung sebagian besar perdagangan dunia menggunakan denominasi dolar Amerika Serikat, penurunan daya beli dolar mememicu inflasi global.

Pada saat ekonomi stabil, kebijakan moneter longgar tidak segera memicu inflasi karena penambahan likuiditas akan diimbangi dengan kenaikan permintaan likuiditas. Tapi di saat krisis, penambahan likuiditas meningkatkan ekspektasi krisis lanjutan. Permintaan uang turun dan spekulasi pada aset meningkat. Kebijakan moneter longgar tidak menyelesaikan masalah krisis finansial Amerika, tapi memicu krisis baru berupa bahaya inflasi tinggi.

Gelembung harga aset yang dipicu kebijakan moneter longgar terlihat pada periode akhir 1990-an pada saham sektor teknologi dan pada periode 2000-2006 di sektor perumahan. Saat ini tema pertumbuhan negara BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China) dan booming komoditas menjadi target banjir likuiditas dari Amerika.

Implikasi Kebijakan
Inflasi di Indonesia saat ini adalah bagian fenomena global sebagai efek negatif kebijakan moneter longgar dari Amerika. Karena itu kenaikan BI Rate tidak akan efektif untuk memerangi inflasi. Lebih baik Bank Indonesia tidak melanjutkan kenaikan BI Rate. Apalagi kenaikan BI Rate hanya menambah beban pada ekonomi domestik dan memancing banjir aliran dana spekulatif jangka pendek.

Inflasi global akan mereda bila Amerika mulai menerapkan kebijakan moneter ketat dengan menaikkan Fed Fund Rate, minimal menjadi empat persen.

Kebijakan uang ketat terbukti efektif meredam spekulasi pada harga-harga aset. Pengetatan likuiditas di Amerika pada periode 2004-2006 menyebabkan pecahnya gelembung aset sektor properti. Sejak kuartal III-2007, pengetatan likuiditas di China telah membuat gelembung harga saham terpangkas sekitar 55 persen. Terakhir, kenaikan suku bunga Bank Sentral Euro menjadi 4.25 persen pada 3 Juli membantu meredam spekulasi di sektor komoditas.

Kami yakin Bank Sentral Amerika akhirnya terpaksa menerapkan kebijakan uang ketat dan menaikkan Fed Fund Rate. Baru lah inflasi global terkendali sejalan mengempisnya gelembung harga komoditas. Jangan heran bila harga minyak pun kembali jatuh di bawah USD100 per barel.


Aksi

Information

One response

19 10 2008
andi

kami sebagai rakyat kecil cuma mau pemerintah indonesia bisa mengambil kebijakan yang baik untuk memperbaiki ekonomi indonesia. pada hakekatnya, inflasi saat ini bukan berasal dari indonesia, tetapi mengapa indonesia ikut merasakan inflasi dari negara luar. apakah pemerintah indonesia tidak ingin negara ini lebih baik lagi.?
saya mohon pada pemerintah indonesia, ambil kebijakan yang sesuai dengan keinginan rakyat, yang rakyat inginkan hanya ekonomi yang sesuai dengan kemampuannya bukan berupa bantuan.
kita tidak akan bisa mandiri kalo terus dibantu, karna bantuan itu membuat kita manja. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: