Penurunan Harga Minyak dan Ekonomi Indonesia

13 08 2008

KEKHAWATIRAN yang sempat menyelimuti sebagian besar penduduk dunia akibat kenaikan harga minyak bumi mulai reda.

Saat ini,secara mengejutkan justru terlihat tren penurunan harga minyak yang cepat. Setelah sempat mendekati level USD150 per barel, harga minyak saat ini sudah berada di bawah USD120 per barel. Kejutan-kejutan akibat gonjang-ganjing harga minyak bumi ini bisa diibaratkan seperti permainan roller coaster: para peserta permainan dikejutkan oleh gerakan ke atas secara tiba-tiba, tetapi sesaat kemudian dikejutkan oleh gerakan menukik yang tidak kalah tajamnya.

Yang jelas, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan semua penduduk Indonesia sudah pernah melewati masa itu dan kemungkinan sebagian besar tidak ingin hal tersebut terulang. Penurunan harga minyak disebabkan kombinasi berbagai faktor.Namun,konsep dasar ilmu ekonomi mungkin sudah bisa menjelaskan penyebab tersebut, yaitu melemahnya permintaan minyak internasional.

Kelesuan perekonomian Amerika Serikat (AS) sebagai akibat lanjutan krisis kredit perumahan tampaknya sudah tidak terelakkan. Laporan kerugian atau ancaman kebangkrutan berbagai perusahaan di bidang keuangan di AS dan Eropa masih terus menghiasi berita ekonomi dan bisnis di surat kabar serta media elektronik.

Harapan perekonomian AS untuk segera keluar dari krisis keuangan serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi belum terlihat sampai saat ini. Pesimisme tersebut membuat pasar minyak bumi terpengaruh secara signifikan karena AS merupakan konsumen minyak terbesar di dunia.

Berita yang muncul mengenai perekonomian Jepang juga tidak berbeda. Bayang-bayang resesi mulai diperhitungkan para pengambil kebijakan di sana. Perekonomian Eropa juga tidak membawa berita baik yang dapat mengembuskan optimisme penguatan permintaan minyak bumi.

Jangan pula dilupakan bahwa saat ini sedang berlangsung musim panas di belahan barat dunia yang secara siklus akan menurunkan permintaan minyak bumi. Pertanyaan berikutnya, bagaimana tren harga minyak ke depan dan apakah penduduk dunia harus siapsiap bermain roller coaster lagi? Ketika harga minyak sedang tinggi-tingginya,timbul dugaan bahwa minyak sedang menjadi komoditas spekulasi karena kelangkaan pasokan.

Kongres AS bahkan sampai melakukan investigasi atas tingkah polah investor di pasar minyak bumi. Permintaan minyak seolah-olah selalu berada pada tingkat yang tinggi dan tidak pernah surut sehingga ketika muncul isu kemungkinan berkurangnya pasokan seperti akibat perang saudara di Nigeria, harga minyak segera melambung dalam sekejap.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa terjadinya spekulasi harga minyak bumi ditunjang oleh ekspektasi tingginya permintaan minyak bumi di seluruh dunia dan masih jauhnya keberhasilan diversifikasi sumber energi. Ketika ekspektasi permintaan di AS menjadi tidak terlalu optimistis, berkurang jugalah kekuatan spekulasi harga minyak bumi.

Perang Rusia dan Georgia saat ini disertai ancaman Rusia untuk memblokade aliran minyak dari Georgia tidak terlalu berpengaruh terhadap harga minyak internasional. China sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia yang sedang tumbuh sangat cepat tampaknya akan sedikit mengurangi konsumsi minyak setelah perhelatan Olimpiade selesai.

Dari sisi pasokan, mulai normalnya keadaan di Irak, meski tetap di bawah pengawalan keamanan yang ketat, akan membantu upaya meredam kelangkaan pasokan. Apabila Irak dapat segera mengalirkan hasil minyak buminya secara lebih baik ke luar negara itu, harga minyak bumi akan sulit mencapai USD150 per barel.

Faktor lain yang mungkin bisa menolong kepastian pasokan adalah peningkatan produksi di berbagai belahan dunia meski mungkin tidak dalam jangka pendek. Sempat tingginya harga minyak bumi juga membawa efek samping positif karena membuka mata dan mendorong keberanian para investor untuk melakukan eksplorasi sumber minyak baru meski terletak di pedalaman atau di tengah laut dalam sekalipun.

Potensi margin yang tinggi akan mengurangi keragu-raguan investor minyak untuk segera melakukan aktivitas di sektor yang memang memiliki tingkat risiko sangat tinggi. Apabila kita mencoba mengikuti prediksi salah satu lembaga keuangan internasional terkenal bahwa harga minyak akan berada di kisaran USD90-100 per barel,apa keuntungan dan kerugian yang akan dialami perekonomian Indonesia? Dari sisi APBN, beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik jelas akan berkurang cukup banyak.

Meskipun pengeluaran kemungkinan menurun, perlu dicatat juga bahwa harga yang lebih bersahabat tersebut juga akan mengurangi potensi penerimaan minyak yang diproduksi di Indonesia. Dengan kata lain, untung tidaknya APBN dari harga minyak yang lebih rendah akan sangat bergantung pada produksi minyak Indonesia.

Apabila produksi dapat mencapai 1 juta barel per hari atau lebih, ditambah peningkatan kemampuan kilang minyak domestik, harga ter- sebut dapat membantu APBN dan tidak akan memberatkan masyarakat lagi dalam bentuk kenaikan harga BBM. Untuk daerah penghasil migas,penurunan harga mungkin dapat mengurangi bagi hasil yang potensial mereka terima.

Namun, secara umum, harga tersebut masih akan menghasilkan bagi hasil yang sangat memadai bagi sebagian besar daerah penghasil migas. Karena sifatnya sebagai substitusi, harus diantisipasi pula turunnya harga gas bumi dan batu bara sebagai sesama sumber energi primer. Selain itu komoditas perkebunan yang berpotensi menjadi biofuel seperti kelapa sawit juga akan merasakan dampak yang sama, di samping kemungkinan masalah kelebihan pasokan di pasar dunia.

Penurunan harga beberapa komoditas pertambangan dan perkebunan tersebut otomatis akan memengaruhi ekspor Indonesia yang sejauh ini selalu mencatat pertumbuhan spektakuler. Penurunan harga tersebut juga akan memengaruhi tingkat keuntungan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam produksi komoditas.

Ini sudah tecermin dari anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) akibat pelemahan harga saham perusahaan pertambangan dan perkebunan. Kelihatannya memang tidak nyaman melihat penurunan ekspor, keuntungan perusahaan, serta IHSG. Namun, harus diingat pula bahwa kenaikan ketiga indikator tersebut pada tahun lalu mungkin merupakan suatu pengecualian di atas kebiasaan.

Dengan demikian, apa yang ditunjukkan ketiga indikator tersebut pada tahun ini mungkin lebih realistis. Ekspor tetap tumbuh, tapi tidak setinggi sebelumnya.Perusahaan tetap untung, meski tidak sebesar sebelumnya, serta IHSG tetap naik, tetapi tidak secepat sebelumnya. Dapat disimpulkan, tren penurunan harga minyak masih menguntungkan perekonomian Indonesia.

Paling tidak, input produksi yang berupa energi tidak akan terlalu memberatkan lagi para pelaku usaha. Harga BBM juga tidak harus terus menjadi hantu bagi masyarakat banyak. Meski begitu, tren tersebut tidak boleh melenakan kita semua karena Indonesia harus tetap konsisten dalam usaha melakukan diversifikasi energi, terutama ke arah biofuel dan nuklir.

Indonesia juga perlu terus menjalankan penghematan energi di segala bidang serta terus berupaya mengubah bentuk subsidi dari harga menjadi subsidi tepat sasaran yang mengarah pada jaminan sosial berkesinambungan. Kondisi yang kelihatan menguntungkan dalam jangka pendek tidak boleh membutakan kepentingan masa depan yang akan jauh lebih sulit dan penuh tantangan


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: