Redemokrasi Ekonomi

22 08 2008

Salah satu tujuan republik adalah merealisasikan kesejahteraan rakyat dengan mekanisme demokrasi ekonomi. Tetapi, merealisasikan cita-cita demokrasi ekonomi terbukti tidak semudah membalik telapak tangan.

Upaya terus menerus untuk mencapai tingkat demokrasi yang paling optimal dalam pembangunan ekonomi menuntut adanya koreksi secara objektif dalam pelaksanaan demokrasi ekonomi itu sendiri. Apakah pelaksanaan pembangunan ekonomi selama ini sudah mencerminkan nilai-nilai demokrasi di dalamnya atau justru sebaliknya?

Pertanyaan tersebut menjadi alat ukur yang harus selalu dijawab. Dari hasil pengamatan empiris, dapat diungkapkan bahwa secara umum pembangunan ekonomi belum dapat dirasakan hasilnya. Kinerja ekonomi kita masih terdapat kekurangan. Kesenjangan ekonomi masih terjadi, baik antarpelaku, antarwilayah, antarsektor, maupun antarkelompok pendapatan dalam masyarakat.

Padahal, baik konstitusi maupun Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) telah memberikan arahan yang cukup jelas ke mana tatanan perkembangan ekonomi kita seyogyanya akan dibawa. Pemerataan merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai. Itu berarti diperlukan mekanisme bagaimana faktor-faktor produksi dimanfaatkan untuk mencapai hasil produksi yang tinggi, sekaligus sepenuhnya bagi kemakmuran rakyat.

Tujuan yang ideal ini tentu saja sulit diwujudkan jika tidak diikuti dengan kebijakan alokasi sumber daya nasional yang adil. Bertolak dari pengalaman negara-negara lain manakala penguasaan faktor produksi lebih terkonsentrasi pada sejumlah kecil kelompok maka dalam kebanyakan kasus proses pemerataan kemakmuran akan terhambat dan mati.

Karena itu, pemerataan kemakmuran sesungguhnya lebih ditentukan oleh sifat penguasaan faktor produksi. Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita mengalokasikan faktor produksi tersebut secara adil dan merata?

Keterlibatan Negara

Sejak semula kita telah mengakui bahwa mekanisme pasar merupakan suatu cara untuk mencapai maksud tersebut. Kita mempercayai bahwa pada suatu tingkat kewajaran tertentu hukum penawaran dan permintaan merupakan cara efisien untuk mendorong proses alokasi sumber daya yang efektif. Pasar yang sempurna akan mampu mendistribusikan faktor produksi secara adil dan selanjutnya hasil-hasilnya dapat memberikan kemakmuran kepada seluruh lapisan masyarakat, bukan orang-seorang atau kelompok.

Namun, dalam praktiknya, kita juga menyadari adanya berbagai ketidaksempurnaan mekanisme pasar. Untuk mewujudkan pasar yang sempurna diperlukan beberapa persyaratan, di antaranya adanya sejumlah pembeli dan penjual yang seimbang, sehingga tidak ada pelaku ekonomi di pasar yang dapat mempengaruhi harga; adanya kebebasan masuk dan keluar atau ke dan dari pasar; informasi dapat diterima secara sempurna oleh semua pelaku ekonomi di pasar; dan adanya kelancaran mobilitas sumberdaya manusia.

Dalam kenyataan, berbagai persyaratan ini sulit dipenuhi, sehingga pasar yang ideal tersebut tidak terwujud. Sebaliknya, di sana sini terjadi distorsi. Akibatnya, bukan pemerataan yang kita dapatkan melainkan pemusatan ekonomi. Pemusatan ekonomi dalam banyak kasus membawa dampak negatif, bahkan ada kecenderungan mengarah pada praktik-praktik ekonomi antikompetisi.
Kondisi semacam ini, sebagaimana juga pengalaman negara lain, akhirnya mengundang keterlibatan negara. Jika suatu faktor produksi sangat terkonsentrasi pada suatu kelompok kecil, yang karenanya mengakibatkan kesenjangan di sisi pemerataan, maka negara mempunyai kewenangan untuk mengatur mekanisme alokasi yang lebih benar.

Pada cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak, bahkan secara langsung negara dapat bersifat monopoli. Namun, monopoli demikian merupakan bentuk monopoli yang diatur, misalnya patokan harganya harus cukup rendah agar terjangkau rakyat banyak.

Jelaslah bahwa di dalam demokrasi ekonomi, tujuannya adalah kemakmuran rakyat secara keseluruhan, di mana rakyat mempunyai hak untuk memiliki peluang ekonomi yang sama dan terlibat langsung dalam proses produksi serta menikmati hasil-hasilnya.
Dalam demokrasi ekonomi, penguasaan faktor produksi yang adil dan merata sangat penting. Mekanisme alokasi faktor produksi itu dilakukan dengan menggunakan kekuatan pasar yang dikelola negara. Inilah prasyarat bila KITA ingin menajamkan gagasan dari demokrasi politik ke demokrasi ekonomi.

Amanat Konstitusi

Wajah demokrasi ekonomi kita sesungguhnya sudah jelas tertuang dalam Pasal 33 UUD 1945 dan penjelasannya. Pasal ini secara tegas mengamanatkan bahwa asas dan sendi dasar perekonomian nasional harus dibangun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan. Hal ini berarti pula bahwa perekonomian nasional harus dibangun berdasarkan demokrasi ekonomi, di mana kegiatan ekonomi pada intinya dilaksanakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dengan kata lain, pembangunan bidang ekonomi juga menghendaki adanya ciri kerakyatan yang jelas. Selanjutnya dinyatakan bahwa pembangunan ekonomi kerakyatan yang dimaksud menginginkan adanya partisipasi yang luas dari seluruh masyarakat, baik dalam proses pembangunan ekonomi itu sendiri maupun dalam hal ikut menikmati hasil-hasil pembangunan ekonomi terebut.

Dalam pembangunan ekonomi, harus dihindari adanya neo-liberalisme dan etatisme yang dapat menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak wajar dan saling mematikan antarpelaku ekonomi. Oleh karenanya UUD 1945 secara tegas menggariskan tentang perlunya pemihakan kepada upaya memberdayakan ekonomi rakyat yang diarahkan pada upaya mempercepat pembangunan koperasi dan usaha kecil sebagai wadah kegiatan ekonomi rakyat banyak.


Aksi

Information

One response

22 08 2008
madzz

salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: