Hati-hati Dengan Nafsu Belanja Anda

18 09 2008

Lebaran makin dekat, beberapa perusahan sudah mulai membagi THR. Kali ini ada satu lagi tips tentang SOPHAHOLIC atau kebiasaan nafsu berbelanja. Hati-hati, setelah rekan-rekan sudah melunasi kewajiban (baca:hutang) masalah masih belum selesai.

Terima kasih pada kisah fiksi yang pernah saya tonton yakni “Confession’s of Sophaholic” yang mengisahkan tokoh Rebecca Bloomwood, seorang penulis manajemen keuangan tetapi doyan belanja.

Ini agak kontradiktif, karena di satu sisi dia orang yang paham soal keuangan tetapi di sisi lain, dia tidak bisa mengerem keinginan belanjanya. Bahkan, dia baru berhenti saat kartu kreditnya sudah overlimit.

Kasus seperti Bloomwood sebenarnya cukup lumrah, soal kebiasaan berbelanja atau yang biasa diistilahkan sophaholic ini. Kebanyakan, kasus pada sophaholic ini selalu memiliki gejala yang sama.

Pertama, sering tidak bisa menahan diri kalau ada diskon, meskipun tidak membutuhkan sekali barang tersebut.

Kedua, selalu berpikir bahwa ‘Saya akan membutuhkan barang itu suatu ketika’, tetapi akhirnya tidak pernah terpakai.

Ketiga, takut menyesal kalau tidak membeli barang itu sekarang (implusif).

Keempat, rumahnya dipenuhi dengan barang-barang belanjaan.

Namun, jangan takut jika rekan-rekan sudah memiliki gejala (simptom) seperti diatas. Ada beberapa Tips atur belanja

Menyangkut soal kebiasaan belanja, ada beberapa tip yang bisa saya sarankan.

Pertama, renungkan. Saya meyakini, orang melakukan sesuatu karena punya dampak emosional. Ya, termasuk soal kebiasaan belanja ini. Umumnya, mereka yang hobi belanja mengejar rasa senang sesaat ataupun melepaskan stres saat diri mereka berhasil membeli sesuatu, apalagi jika menurut mereka ‘sangat murah’.

Ini seperti sebuah achievement! Sayangnya, tujuannya hanya kesenangan sesaat. Habis itu, mereka tidak terlalu berminat lagi dengan barangnya. Mereka lebih suka ‘aktivitas’ belanjanya.

Makanya, perlu dipikirkan pula apa akibat menyakitkan dari barang yang dibeli, menumpuk dan mulai mengganggu. Beberapa artis dan selebritas mengatakan bahwa mereka bisa mulai mengendalikan kebiasaan shopping-nya saat mulai menanamkan rasa sakit dan kapok karena rumahnya kini mulai jadi gudang dan tidak lagi menjadi tempat yang menyenangkan untuk ditinggali karena kebiasaan belanja mereka.

Kedua, disiplinkan. Saya cenderung menyarankan, perilaku belanja ini mulai dikendalikan dengan menjatahkan berapa uang yang akan dipakai untuk berbelanja.

Untuk itu, pada awal-awal, saat menerima gaji, atau saat menerima THR, hal pertama yang harus dilakukan adalah bertanya, ‘berapa uang yang perlu saya tabung’. Minimal 10% gaji Anda harus disisihkan, menurut buku The Richest Man From Babylon.

Namun, untuk kebutuhan sekarang, rasanya 10% termasuk kurang, jadi alangkah bagusnya kalau bisa disisihkan lebih banyak. Sisanya lagi dibagi antara untuk keperluan rutin, mungkin sekitar 30%, barulah setelah itu boleh dipikirkan untuk belanja yang sifatnya insidentil. Alokasi bujet ini akan sangat membantu.

Ketiga, pikirkan AMBIAK (Apa Manfaat Barang Ini Bagi Aku). Cobalah jujur, jangan coba cari-cari alasan bahwa barang ini memang penting buat Anda. Tapi, pikirkan lebih tenang, “Apakah barang ini berguna buatku saat ini hingga beberapa bulan mendatang?”

Hal ini akan membantu Anda untuk memikirkan kembali kegunaan riil barang tersebut. Akhirnya, Anda pun membeli karena memang butuh, bukan karena ‘mumpung lagi diskon’, ‘kasihan pada penjualnya’, atau ‘cakep sekali SPG nya’.😛

Keempat, buat list belanja. Hal ini terkesan sepele tapi banyak orang telah melakukannya dan cukup mengurangi kebiasaan buruk. Dengan demikian, saat belanja Anda tetap terfokus dengan apa yang betul-betul Anda butuhkan.

Kelima, belanja dalam emosi yang tenang. Jika memang akhirnya anda harus belanja, pastikan Anda dalam keadaan yang tenang dan tidak dalam keadaan emosi tidak stabil, khususnya dalam kondisi yang saya sebut HALT (hungry, angry, lonely ataupun tired) yakni saat Anda marah, lapar, kesepian atau kelelahan.

Alasannya, dalam kondisi demikian Anda cenderung tidak dapat mengambil keputusan secara jernih.

Jadi, singkat kata. Untuk menghadapi kegilaan belanja bukan hal yang mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Jadilah bijak dalam membelanjakan uang Anda dan jadilah ‘tuan’ dalam menggunakan uang Anda.

Mulai sekarang berbelanjalah sesuai dengan kebutuhan, bukan karena menuruti keinginan. Sukses dan Selamat Berlebaran!!


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: