Mestinya Indonesia Segera Antisipasi Efek dari Resesi Global

6 10 2008

Bailout sebesar US$ 700 miliar di Amerika Serikat tidak serta merta meredam gejolak global. Buktinya bursa di AS anjlok sesaat George Bush menandatangani undang-undang bailout.

Pasar tampaknya belum sepenuhnya percaya dengan langkah tersebut. Beberapa faktor antara lain jumlah US$ 700 miliar dirasa masih kecil dibanding dengan magnitude persoalan keuangan akibat kegagalan kredit perumahan (subprime mortgage), belum ada rencana spesifik bagaimana menggunakan dana tersebut, serta masih ada keraguan apakah langkah ini dapat melindungi pembayar pajak.

Karena itu pemulihan krisis ekonomi di AS masih perlu waktu. Saat ini ekonomi dunia tengah memasuki krisis ekonomi. Pertumbuhan GDP (gross domestic product) dunia kemungkinan akan turun dibawah 2,7% pada 2008. Didorong harga minyak dan bahan pangan, lajut inflasi akan tinggi, sementara produksi mandeg menuju stagflasi.

Menurut saya, dampak resesi bagi Indonesia sangat besar. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasinya dengan langkah cepat penyelamatan ekonomi nasional. Ekspor yang masih tergantung pada pasar AS dan Jepang terutama untuk produk pertanian akan terimbas langsung.

Ledakan pengangguran yang terjadi di AS akan sangat menurunkan daya beli negara itu yang tentu saja menurunkan impor mereka. Pada September Departemen Tenaga Kerja AS menyebut peningkatan pengangguran pada rasio 6,1% tertinggi selama 5 tahun terakhir dan pertumbuhan ekonomi bisa jadi negatif.

Jepang yang merupakan tujuan utama ekspor Indonesia juga terkena efek domino akibat kedekatan ekonomi negara itu dengan AS. Pada Juni lalu saja surplus perdagangan Jepang terpangkas sekitar US$ 1,28 miliar atau turun sekitar 90% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan GDP Jepang akan anjlok di bawah 1,5%. PM Jepang Taro Aso menyatakan Jepang tengah memasuki resesi. Selama ini AS dan Jepang merupakan negara utama tujuan ekspor Indonesia.

Pemerintah harus kembali mendengarkan saran tentang perlunya diversifikasi pasar tujuan ekspor agar tidak tergantung pada dua negara tersebut. Pasar di kawasan Timur Tengah, Eropa Barat, Eropa Timur, Tiongkok dan India harus digarap lebih serius lagi.

Menteri Perdagangan seyogyanya segera merumuskan langkah-langkah terobosan menemukan ceruk baru pasar dikawasan itu. Lebih dari itu kita tidak boleh sepenuhnya tergantung pada pasar global, karena sewaktu-waktu kita bisa kolaps.

Export led harus diimbangi dengan domestic market orientation. Karena itu upaya memperkukuh pasar domestik menjadi sangat penting. Indonesia berbeda dengan Singapura atau Taiwan yang negaranya kecil sehingga sepenuhnya bertumpu pada pasar global melalui ekspor. Indonesia negara besar dengan penduduk lebih dari 210 juta memiliki potensi pasar dalam negeri sangat besar. Hanya saja daya belinya masih rendah.

Karena itu harus diambil upaya terobosan untuk meningkatkan daya beli masyarakat lokal terutama di pedesaan dan sektor pertanian. Pengembangan industri pedesaan berbasis pertanian harus di menjadi prioritas.

Selain itu juga menyediakan fasilitasi proses produksi guna meningkatkan nilai tambah terutama melalui desiminasi teknologi dan akses pada perkreditan. Termasuk penyederhanaan perijinan usaha bagi Usaha Kecil Menengah dan Koperasi, alokasi anggaran pembangunan yang lebih pro rakyat miskin serta pelonggaran likuiditas perbankan yang tengah melakukan perang suku bunga.

Beberapa sektor industri yang perlu mendapat perhatian khusus di antaranya adalah pangan dan produk pangan olahan, perikanan dan produk perikanan olahan, peternakan dan produk olahannya, kayu, produk olahan kehutanan, dan produk-produk perkebunan.

Selain itu perbaikan iklim investasi dalam negeri perlu dilakukan secara serius, karena arus investasi akan sangat ketat tahun ini. Sekjen UNCTAD (United Nation Trade and Development Conference) Supachai Panitchpakdi memperkirakan penurunan sekitar 10% investasi global dari US$ 1,8 triliun tahun lalu menjadi US$D 1,6 triliun di 2008.

Sebagai negara tujuan investasi di Asia, menurut saya, Indonesia masih kalah menarik dibandingkan Tiongkok, India dan Vietnam. Iklim investasi telah mengalami perbaikan namun, terdapat sejumlah faktor yang masih sering dikeluhkan oleh investor.

Di antaranya keterbatasan infrastruktur, tidak terbukanya proses hukum, aturan perpajakan yang rumit, pembatasan ekuitas, komplikasi prosedur administrasi dan birokrasi. Juga kesulitan memperoleh sub-kontrak, perselisihan perburuhan dan keterbatasan tenaga ahli. Terhadap faktor-faktor ini diperlukan langkah-langkah perbaikan yang substansial.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: