Rindu Diturunkannya Harga BBM

28 10 2008

Tepat pada 24 Mei 2008 lalu kita berkabung dengan keputusan Pemerintah Indonesia yang pada akhirnya menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, rata-rata sebesar 28,7%. Kita berbela sungkawa karena dampak luarbiasa yang akan terjadi hingga saat ini dalam penurunan kondisi kehidupan kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Mereka ini merupakan kelompok yang bukan saja termasuk masyarakat penerima BLT tetapi juga meliputi sekitar 40% warga masyarakat berpendapatan rendah di seluruh penjuru tanah air.

Dampak kenaikkan harga BBM sudah pasti akan menyusahkan rakyat berpendapatan rendah. Dampak multiplier negatif tahap pertama segera terjadi dengan resminya Pemerintah menambah tarif minyak tanah Rp 500 per liternya dan tarif angkutan umum rakyat miskin 15% efektif satu minggu ke depan. Bagi kepentingan kelompok berpendapatan rendah yang masih mencicil kredit kendaraan roda duanya, bersiap-siaplah mengurangi kepergiannya karena setiap kilometer perjalanan perlu memperhitungkan dampak kenaikkan harga premium sebesar Rp.1500 per liternya di seluruh SBPU di tanah air. Beberapa organisasi pimpinan bisnis dan lembaga risetpun sudah mencanangkan akan terjadinya malapetaka konsumen.

Dampak multiplier negatif lanjutan diperkirakan akan terjadi akibat kenaikan harga BBM itu. Sebagian besar Pemerintah Kota Kabupaten segera akan meningkatkan tingkat upah minimum regionalnya, mengatasi kenaikan inflasi di wilayahnya masing-masing. Pengaruh dari dua kebijakan sentral ini adalah akan memukul langsung kinerja pemanfaatan kapasitas produksi sektor manufaktur di Indonesia. Para pengusaha di sektor kegiatan ekonomi tersebut tentunya akan mengurangi jumlah jam kerja para pekerja berpendapatan rendah, bahkan sekarang terbuka celah untuk juga melakukan pemutusan kontrak hubungan kerja. Jika ini terjadi, akibatnya malapetaka bagi kepentingan para rumahtangga berpendapatan rendah karena tertimpa jatuhnya anak tangga dua kali.

Jika Pemerintah tetap akan mempertahankan target inflasi “moderate” pada akhir tahun, bukan tidak mungkin tingkat bunga akan dikatrol naik, Sehingga jika ini terjadi maka resiko kegagalan penanganan perekonomian nasional akan terbuka lebar, dengan kemungkinan naiknya berbagai peristiwa masal gagal bayar kredit rumah murah, kredit motor, kredit modal kerja UKM dan pinjaman-pinjaman rakyat miskin dari para pemilik kapital di sektor informal.

Dengan berbagai pengaruh dampak multiplier negatif diatas, apakah bantuan langsung dan kegiatan sosial yang bersifat ” membagi-bagi permen” akan cukup berarti dalam meringankan beban masyarakat berpendapatan rendah?

Namun sungguh menyakitkan sesaat setelah hari ini harga minyak dunia sudah tembus di harga 60-an dollar AS per barrel, segala alasan mulai dikemukakan untuk mencegah turunnya harga BBM. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro kepada KOMPAS, Purnomo: Turunkan Harga BBM Keputusan Politik . tak bisa mengambil keputusan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) karena merupakan keputusan politik bukan keputusan ekonomi.

Menurut Purnomo, menentukan harga BBM adalah persoalan gampang-gampang susah. Harga minyak mentah dunia yang fluktuatif dalam beberapa bulan terakhir, menurutnya, bukan merupakan salah satu patokan utama. “Dari evaluasi konsumsi BBM juga menemukan banyak penyimpangan penggunaan BBM. Diantaranya banyaknya pengguna Pertamax yang beralih ke premium bersubsidi,” katanya.

Nah lho.. bagaimana ini?? dulu beribu alasan dikemukakan untuk “menyesuaikan” harga BBM dengan harga minyak dunia, sekarang lain lagi alasan yang diutarakan pada publik.

Ditambah lagi, masih dari koran sama, Wapres: Harga BBM Ditentukan 3 Faktor

Menurut wapres Kalla, “Turun naiknya harga BBM ditentukan oleh tiga faktor. Pertama, harga minyak mentah dunia rata-rata selama setahun. Kedua, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan ketiga besaran subsidi BBM di APBN. Pemerintah masih melihat tiga faktor tersebut,”

Wapres Kalla sebelumnya memperkirakan, harga BBM saat ini masih belum dimungkinkan untuk turun. “Sebab, selain harga minyak mentahnya masih belum stabil, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga sekarang ini melemah sehingga biaya pembelian minyak mentah pemerintah dalam rupiah akan meningkat,” kata Wapres.

Ada yang bisa bantu menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana dari pernyataan petinggi negeri ini soal BBM?? Kami sudah rindu dengan turunnya harga BBM, tapi kapan?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: