Hikmah Dari Persoalan Reksadana Bodong Antaboga Delta Sekuritas

18 11 2009

Lets Money Work For You.. jargon tersebut seringkali didengungkan oleh mereka yang merasa sudah menjadi “Pendekar” dalam dunia Investasi. Namun, kenyataannya uang tetaplah uang, uang adalah benda mati yang tak mampu berkelit jika terjadi risiko. Peranan manusia sangat mutlak diperlukan dalam investasi apapun.

Karena saya tidak mengetahui detail persoalan Bank Century dan lain-lain, terpaksa saya pilih tidak ikutan latah memperbincangkan kasus Bank Century cc Arthaboga Delta Sekuritas. Saya justru concern dan prihatin dengan kondisi yang ada sekarang, dimana nasabah atau investor kerap kali menjadi mangsa empuk sekaligus korban yang tak pernah “terbela” dari “malpraktik” dunia investasi. Saya akan bantu menjelaskan sebisanya ikhwal investasi Reksadana, sekaligus sekilas tips ber-reksadana.

Susah-susah gampang atau gampang-gampang susah (terserah pilih yang mana hehehhe..) jika kita hendak mengatur portofolio investasi. Bersyukurlah jika kita diberi kelebihan riszqi dan tetap berusahalah jika belum mampu, seperti yang dilakukan kebanyakan orang termasuk saya, untuk belajar menjadi pintar sebelum berinvestasi.

Reksadana, secara harafiah adalah wadah dan pola pengelolaan dana atau modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli Unit Penyertaan (UP) Reksadana.

Dana tersebut kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.

Secara formal, menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27): “Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.”

Dari dua definisi di atas, terdapat tiga unsur penting dalam pengertian Reksadana yaitu:
– Adanya kumpulan dana masyarakat, baik individu maupun institusi
– Investasi bersama dalam bentuk suatu portofolio efek yang telah terdiversifikasi; dan
– Manajer Investasi dipercaya sebagai pengelola dana milik masyarakat atau investor

Pada Reksadana (RD), manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian serta menerima dividen atau bunga/yield yang dibukukannya ke dalam “Nilai Aktiva Bersih” (NAB) RD tersebut.

Kekayaan RD yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib disimpan pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan manajer investasi, dimana bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif sekaligus administratur.

Selanjutnya, di pasar atau di khalayak umum ada 4 jenis RD yang disahkan oleh pemerintah. Keempat jenis RD itu adalah:

1 Reksadana Pendapatan Tetap.
Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelola (aktivanya) dalam bentuk efek bersifat utang.

2. Reksadana Saham.
Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelolanya dalam efek bersifat ekuitas.

3. Reksadana Campuran.
Reksadana yang mempunyai perbandingan target aset alokasi pada efek saham dan pendapatan tetap yang tidak dapat dikategorikan ke dalam ketiga reksadana lainnya.

4. Reksadana Pasar Uang.
Reksadana yang investasinya ditanam pada efek bersifat hutang dengan jatuh tempo yang kurang dari satu tahun.

Sedangkan NAB (Nilai Aktiva Bersih) merupakan salah satu tolok ukur dalam memantau hasil dari suatu Reksa Dana.NAB per saham/unit penyertaan adalah harga wajar dari portofolio suatu Reksadana setelah dikurangi biaya operasional kemudian dibagi jumlah saham/unit penyertaan yang telah beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut yang dimonitor perkembangannya melalui salah satu surat kabar BISNIS INDONESIA.

Reksa Dana juga memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif investasi yang menarik, antara lain:

1. Dikelola oleh manajemen profesional
Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.

2. Diversifikasi investasi
Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu.

3.Transparansi informasi
Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin.

4. Likuiditas yang tinggi
Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib membeli kembali Unit Penyertaannya sehingga sifatnya sangat likuid.

5. Biaya Rendah
Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi.

Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah dibandingkan apabila Investor individu melakukan transaksi sendiri di bursa.

Reksadana juga mudah didapat, rekan-rekan dapat memperoleh informasi sekaligus membeli RD (jika sudah mengetahui dan memahami profil risiko yang terkandung) pada tempat yang terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksadana).

Dari situs Bapepam, daftar Agen Penjual Reksadana yang terdaftar (per artikel ini ditulis) adalah:

1.    PT Bank CommonWealth
2.    American Express Bank Ltd.
3.    PT Bank CIMB Niaga
4.    Deutsche Bank AG
5.    PT Bank DBS Indonesia
6.    PT Bank Internasional Indonesia (BII)
7.    PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
8.    PT Citibank NA Cabang Indonesia
9.    Standard Chartered Bank Indonesia
10.    PT ABN AMRO Bank (yang sekarang tampil dengan nama baru RBS)
11.    PT BRI (Persero) Tbk
12.    PT Bank Buana Indonesia TBK (sekarang lebih dikenal dengan nama UOB Buana)
13.    Bank Permata Tbk
14.    PT HSBC Ltd
15.    PT Bank Lippo Tbk
16.    PT Bank Danamon Tbk
17.    PT Bank Bukopin Tbk
18.    Bank BCA Tbk
19.    Bank NISP Tbk
20.    PT Bank Mayapada Internasional Tbk
21.    PT Victoria Internasional Tbk
22.    PT Bank SinarMas
23.    PT Bank Pan Indonesia Tbk
24.    PT Bank Mega Tbk
25.    PT Bank Syariah Mandiri
26.    PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk
27.    PT BNI (Persero) Tbk

Jika selama ini rekan-rekan membeli Reksadana tidak langsung dari Pengelola Reksadana tersebut, melainkan melalui agen penjual, periksalah apakah tempat anda membeli Reksadana masuk dalam daftar di atas. Jika tidak, ada baiknya diselidiki lebih lanjut.

Langkah selanjutnya menurut saya ialah memeriksa apakah reksadana yang kita beli telah terdaftar dan memiliki izin dari Bapepam LK.

Untuk mengetahui “keabsahan” suatu RD bisa dilakukan dengan mengunjungi website BAPEPAM. Namun, sayang hingga saat ini website BAPEPAM masih diperbaiki, pilihan yang tersisa ialah dengan konfirmasi langsung ke BAPEPAM via telpon.

Berinvestasi di RD bukanlah risk free , beberapa risiko yang mungkin timbul apabila kita memutuskan untuk membeli RD diantaranya ialah:

1. Risiko menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) Unit Penyertaan
Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan dalam portofolio Reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal. Penyebab penurunan harga pasar portofolio investasi Reksadana bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya akibat kinerja bursa saham yang memburuk, terjadinya kinerja emiten yang memburuk, situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, dan masih banyak penyebab fundamental lainnya.

2. Risiko Likuiditas
Potensi risiko likuiditas ini bisa saja terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan reksadana pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikkan dana dalam jumlah yang besar pada hari dan waktu yang sama. Istilahnya, Manajer Investasi tersebut mengalami rush (penarikan dana secara besar-besaran) atas Unit Penyertaan reksadana. Hal ini dapat terjadi apabila ada faktor negatif yang luar biasa sehingga mempengaruhi investor reksadana untuk melakukan penjualan kembali Unit Penyertaan reksadana tersebut. Faktor luar biasa tersebut di antaranya berupa situasi politik dan ekonomi yang memburuk, terjadinya penutupan atau kebangkrutan beberapa emiten publik yang saham atau obligasinya menjadi portofolio Reksadana tersebut, serta dilikuidasinya perusahaan Manajer Investasi sebagai pengelola Reksadana tersebut.

3. Risiko Pasar
Risiko Pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Istilah lainnya adalah pasar sedang mengalami kondisi bearish, yaitu harga-harga saham atau instrumen investasi lainnya mengalami penurunan harga yang sangat drastis. Risiko pasar yang terjadi secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang ada pada Unit Penyertaan Reksadana akan mengalami penurunan juga. Oleh karena itu, apabila ingin membeli jenis Reksadana tertentu, Investor harus bisa memperhatikan tren pasar dari instrumen portofolio Reksadana itu sendiri.

4. Risiko Default
Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi milik emiten yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar kewajibannya. Risiko ini hendaknya dihindari dengan cara memilih Manajer Investasi yang menerapkan strategi pembelian portofolio investasi secara ketat.

Jangan lupa untuk : BACA, BACA dan BACA KEMBALI prospektus reksadana yang diterima.

Selanjutnya, jangan pilih RD hanya berdasarkan rating aja, Penilaian sebuah produk RD dilihat berdasarkan performa masa lalu, dan menurut saya, kurang menfokuskan kepada performa masa datang.

Ingat, pada akhirnya, yang bertanggung jawab atas uang kita adalah kita sendiri. Peranan manusia masih mendominasi dan belum bisa tergantikan. Membaca prospektus dengan teliti adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap calon investor.

Mudah-mudahan berguna,

Salam


Aksi

Information

2 responses

12 02 2010
adhi

wew…. ngutif wikipedia ya bosss

26 12 2010
MUSRIPAH

saya ingin berinvestasi di reksadana yang aman tidak berisiko , biaya murah , dengan mulai nominal 500 ribu rupiah , lewat bank mana membelinya , mohon diinfokan ke MUSRIPAH JL. LETNAN KHOIRI NO ; 45 RT 01 RW 08 KARANGANYAR GUMUKMAS JEMBER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: