Krisis Dubai Berpotensi Sebagai Katalis Anjloknya Bursa Saham Global

29 11 2009

Berita dari Dubai yang mengejutkan banyak pihak terutama dari pelaku pasar serta investor global. Menurut kami, masih terlalu dini untuk menilai seberapa besar keterlibatan bank-bank AS di Dubai, walaupun kekhawatiran imbas global mulai berkurang pada penutupan pasar di hari Jum’at (27/11) lalu.

Jika krisis hutang Dubai semakin intensif maka berpotensi untuk memicu peningkatan terhadap aset beresiko, penurunan atau pelemahan bursa-bursa juga cenderung berujung pada melorotnya berbagai indeks saham di hampir seluruh kawasan global, seperti yang terjadi pada sesi perdagangan hari Jum’at (27/11). Indeks saham kemungkinan akan terus berlanjut melemah pekan ini.

Selain hal tersebut, dolar AS secara kongkrit mendapat GAIN terhadap major currencies atas peristiwa Dubai. Sebelumnya, Yen telah menguat hingga sentuh rekor terendah selama 14 tahun versus dolar AS dan DowJones di akhir pekan perdagangannya dibukukan turun 1.48%, menjadi 10309.92

Catatan kami, menjelang bulan terakhir perdagangan di tahun 2009 ini, menurut Buku Stock Trader’s Almanac, bulan Desember pada umumnya secara tradisional merupakan salah satu bulan terbaik untuk saham, dengan rata-rata kenaikan sebesar 1.7% pada indeks S&P 500 sejak tahun 1950.

Dan jika pasar ekuitas kembali bergairah, tak urung para pelaku pasar cenderung akan melepas dolar AS untuk kembali masuk pada perdagangan saham, diputaran akhir tahun 2009 ini.

Namun, krisis hutang di Dubai berpotensi menjadi katalis dari “koreksi yang terlambat” dari pasar saham dan aset beresiko lainnya dan diduga akan  membalik semua skenario sekaligus membuat bab baru pada buku Stock Trader’s Almanac.

Agenda fundamental ekonomi yang patut dicermati sepanjang pekan ini ialah Non-farm payrolls (NFP) yang akan dirilis Jum’at (04/12) diestimasi akan menunjukkan angka dimana ekonomi AS kehilangan 130,000 pekerja untuk November, turun dari 190,000 yang terjadi di Oktober, menurut survei yang dilakukan oleh Reuters terhadap berbagai ekonom. Tingkat pengangguran diperkirakan tidak akan mengalami perubahan, tetap dilevel 10.2%.

Data ekonomi lain yang jadi fokus di pekan ini ialah Institute for Supply Management, Indeks ISM Manufacturing diestimasi akan turun ke 55.0 di November dari 55.7 di Oktober, sedangkan non-manufacturing, atau jasa, indeks diekspektasi akan naik ke 51.5 di November dari 50.6 di bulan sebelumnya.

Sementara itu pada sesi perdagangan hari Senin (30/11) BEI kemungkinan akan mengamati perkembangan atau kondisi yang terjadi di Bursa Tokyo, indeks Nikkei sebagai highlightnya, kemudian Shanghai dan disusul oleh Hang Seng, Hongkong.

Jikalau mereka positif biasanya indeks pada BEI akan cenderung bergerak positif juga. Eropa hari jumat sudah bergerak hijau, padahal bank di eropa yg paling banyak exposure di dubai.

Panic selling kemungkinan pada sektor kontraktor yg punya exposure di Timteng.

Senin besok (30/11) -hari ini- akankah BEI tetap melanjutkan panic selling atau justru rebound?

Apakah efek Dubai World memang hebat ataukah hanya panic selling biasa?

Happy trading!! Keep cool and calm🙂

 

Salam hangat!

Iwan Cahyo Suryadi


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: